Aria

..

“She’s rude.” said he.

“Listen, dummy. You started it first. You left her and it’s not a thing forgettable… at least for her, and me. You forget about me.” Said she, replying in a high tone.

“Whatever, really. I am not going to lick your ass like the others. I hope once you get out of here, you will be flattened by a high-speed bus!” Said she, again, swearing, looking at him going away, away..

.

.

“911, there’s an accident…”

Advertisements

We were in almost mythic relationship

We were always in almost mythic relationship
At first glance I captured almost all your natures
My eyes rolled to your ears
My eyes rolled to your nose
My eyes rolled to your hemisphere
And then they zoomed out
Yes, that was enough. Looking at you was enough
Observing you was enough
A little arch shaped on my face, I was enough
I was fulfilled

I had no chance to get to you, ever, but I missed it apparently
Past me didn’t get to acknowledge it
Past me was too dense
But past me observed you
But past me didn’t understand
And it went like that
It was that
Though I didn’t know that, I knew that

The mythic relationship between you and I, just like that

Kopi: Sebuah Signifikansi

“..And it evaporates into thin air, the molecules are dancing happily before disappearing.”

Ada beberapa hal yang tidak perlu diungkapkan secara eksplisit. Dalam kasus ini tergolong menyakitkan-tidak menyakitkan.
Aku pernah terjebak pada ruang yang berwarna hitam. Ruangan itu kedap suara dan dengan bodohnya aku masih mencoba untuk berteriak – kuharap siapapun di luar bisa mendengarku, yah, hanya sekelebat pengalaman saat aku masih pandai bermain alat musik yang terdiri dari empat buah senar berukuran besar yang dinamakan bass. Waktu itu aku masih berumur enam belas tahun dan sering jamming dengan teman-temanku. Meski ruangan itu kedap suara, bassku masih terdengar. Setidaknya itu yang temanku katakan (posisi temanku ada di luar).

Namun sepertinya ruangan itu tidak benar-benar hampa udara, dan ruanganku, sebagai pembandingnya, memiliki tekanan gas nol persen. Kosong dari materi. Suaraku tak bergaung.

Aku meratapi diriku sejadi-jadinya. Semua ini berawal dari kecerobohanku memilih seseorang. Aku tidak akan pernah tahu siapa ia sampai aku bertemu dengannya. Ia sempat menjadi my personal living hell. Bersamanya, aku benar-benar merasa ketakutan. Aku bahkan lebih takut untuk bertemu dengannya daripada harus berhadapan dengan banyak macam puntianak.
Aku terus meronta di dalam ruangan hampa udara ini, yang membuatku semakin susah bernafas – aku memiliki riwayat penyakit asma. Bisa kau bayangkan?

Lalu aku sadar bahwa aku sendirilah pencipta ruangan yang terus mencengkeram paru-paruku ini.

Aku mulai memeluk kenyataan, mencintai ruang hampaku yang menuntunku untuk menikmati kebebasan..

Namun setelah aku bebas, ada satu perasaan aneh yang tumbuh dengan subur karena ketidaksadaranku yang ternyata selama ini telah memupuknya. Lalu kemudian itu berubah menjadi perasaan yang.. tidak sesak.. hanya aneh.
Aku menjadi orang yang tidak sehat karena kebebasanku. Namun itu membuatku jauh lebih bijak daripada aku yang berumur enam belas tahun. Aku sempat liar. Aku sempat lepas kendali. Aku sempat…

Seperti itulah keadaannya.

Sekarang, kepergian sosok yang sebenarnya kubenci karena ia mengajarkanku akan kebebasan yang terasa salah namun terasa benar, sering membuatku tersadar bahwa akan selalu ada lapisan perak di awan hitam. Terima kasih, aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapmu. Namun, terima kasih karena membuatku kagum.

Mungkin suatu saat, di alam semesta paralel jika itu memang ada, kita bisa meminum kopi bersama dan menikmati uap yang terbang perlahan mengikuti arah angin, dan juga membenahi apa yang harusnya dibenahi.

Oh ya, selamat jalan, maaf aku tidak pernah mengunjungimu. Aku tidak berhak. Tapi, selamat jalan. Semoga kau sampai di tujuan.

Ahok Tumbang Akibat Menafikan Kaum ‘Kirik’ dan Massa Mengambang

Kupretist blog

Strategi komunikasi para buzzer pihak Ahok konsentrasi pada narasi lawan politiknya, berusaha membuatnya terlihat jelek agar orang-orang tidak mau terafiliasi. Ini persis yang dilakukan para buzzer Hillary, yaitu memperlihatkan kebodohan pihak Trump. Tapi tindakan ini justru menciptakan panggung bagi narasi sang lawan politik (pihak Anies-Sandi).

Para youtuber sudah terbiasa dengan hal ini: like atau dislike itu tidak penting, algoritma Youtube tetap menghitungnya sebagai interaksi, dan youtuber-nya dapat keuntungan besar. Ada seorang youtuber yang punya uang banyak dari video-videonya yang dapat ratusan ribu dislike; tidak masalah orang suka atau tidak, tapi pesannya naik arus dan mencapai jauh lebih banyak orang.

View original post 181 more words

Apa isi kolom agama di KTP ateis?

Sudah pernah mendengar wacana bahwa masyarakat dapat mengosongkan kolom agama di KTP, well, I guess I will do that, later 😉

Anda Bertanya Ateis Menjawab

Pertanyaan terkait:
Bisakah kolom agama pada KTP tidak diisi?

Jawaban:
Sejauh ini kolom agama diisi dengan agama orang tua, agama lama kami, atau dikosongkan. Sebenarnya perundangan di Indonesia sudah memungkinkan untuk mengosongkan kolom agama.

Pasal 64 ayat 2 UU no 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan menyebutkan, “…bagi Penduduk yang agamanya belm diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi….” Pasal ini memberikan peluang bagi siapa pun untuk mengosongkan kolom agama pada KTP-nya.

Namun demikian sepertinya tidak banyak ateis yang sudah mengosongkan kolom agama pada KTP-nya. Ada yang mengisinya dengan Buddha, dengan alasan karena Buddha adalah agama non-teis sehingga paling dekat dengan ateisme. Mengganti kolom agama tidaklaah semudah yang dibayangkan. Tidak adanya arus informasi yang baik dalam sistem pemerintahan kita membuat banyak sekali petugas petugas di level kelurahan yang tidak mengetahui bahwa undang undangnya sudah ada. Jangankan mengosongkan kolom agama, pindah agama pun pengurusannya cukup ribet di…

View original post 116 more words

Eros & Psyche

unbolt me

Just a quarter of an inch across and I’d have been pulling up daisies. Eros is packing some serious heat these days, a fact to which the hole in my living room wall attests. I’m standing here with two fingers inserted, noting the rough edges. Not quite as smooth as one would expect, yet so typical of a god really. Always demanding more than they can give. Always getting more than they deserve. Well, not from me. I refuse to pay him any attention. I withdraw to the bathroom to wash the white residue off my hands.

My mind drifts back to when we were fledglings. All Eros had in those days was a dinky little slingshot from which to fire his pixie skulls. We’d fossick for their wingless remains at the foot of the royal mosaics at Latium, right there on the beach alongside the unsuspecting sunbathers who would soon become…

View original post 227 more words